Apa
yang ada di benak anda jika mendengar kata Toilet Training? Seru, was2, takut,
malas?? Hihiii sepertinya semua jawaban benar ya. Toilet Training adalah usaha
untuk mengenalkan dan melatih anak supaya bisa buang air sendiri, baik BAK
(Buang Air Kecil) maupun BAB (Buang Air Besar). Pelatihan toilet training itu
sendiri memerlukan kesabaran dan kesiapan kedua belah pihak, yaitu ortu dan
anak. Banyak sekali metode2 yang bisa dilakukan demi tercapainya TT tersebut,
namun tetap pada intinya harus sabar, konsisten dan siap.
Saya
sudah mengalami semuanya terhadap kedua anak saya, dengan cara yang berbeda.
Mengapa?? Yap, karena tiap anak mempunyai karakteristik berbeda2 dan juga
perlakuan saya terhadap kk (Echi) dan adek (Lyra) juga berbeda. Didasari oleh
ketidaktahuan tentang toilet training itu sendiri, membuat masa2 TT Echi dulu
penuh dengan emosi. Selain karena usia saya yang waktu itu terbilang sangat
muda (ciyeee), 21th, saya juga masih
harus menempuh beberapa mata kuliah yang sempat saya tinggalkan sejak kehamilan
sampai kelahiran Echi. Bisa dibayangkan dong ya galaunya saya. Tidak ada orangtua
yang mendampingi. Adapun mertua tapi tidak tinggal seatap dengan kami.
Waktu
itu terasa susaaaah sekali untuk mengajari Echi supaya bisa pipis di toilet,
apalagi pup, haduww pe-er banget deh. Sudah setiap hari diajarkan tidak memakai
pospak lagi, sudah diajari kalau mau pipis bilang, dia selalu mengangguk tanda
mengerti tapi kenyataannya, waahh dia baru bilang pipis ketika air pipis sudah
keluar mengalir ke lantai. Apalagi kalau mau BAB/pup, dia yang awalnya ceria
tiba2 terdiam dan hening, ngeden di tempat, yess kecolongan lagi saya. Saya
tidak terlalu ingat detailnya, namun kesimpulannya adalah susaaah sekali
melatih echi TT dengan berbagai latar belakang tadi ya, mungkin ditambah dengan
kondisi Echi yang belum siap. Susah, sedih, pengen marah, pengen nangis,
apalagi memikirkan skripsi saat itu,, aaaarrghhhh rasanya pengen teriak2
jambak2 rambut.
![]() |
| yang akur ya anak2 mama :* |
Berbeda
sekali dengan proses TT yang dilalui adeknya, Lyra. Saat ini dia berusia 22
bulan kurang 5 hari. Sejak usia 21bulan dia sudah bisa lepas diaper sepanjang
pagi-sore. Dan sekitar 2minggu setelah itu saya coba untuk lepas diaper saat
tidur malam. Berhasil?? Tentuuu doong *jogedjoged. Bagaimana triknyaa? Begini,
awal mulanya saya malah tidak berniat untuk mengajari Lyra TT mengingat usianya
yang menurut saya masih kecil. Waktu itu akhir bulan yang menyedihkan, karena
persediaan diaper lyra tinggal beberapa saja. Akhirnya nekatlah saya untuk
tidak memakaikan diaper pada Lyra. "Sesekali aja lah", niat awalnya
begitu. Awalnya dia tidak nyaman dengan kondisi itu, dia terlihat selalu
memegangi celananya. Setiap saya tanya "dd mau pipis", dia
mengulangnya "pipis". Akhirnya saya gotong sambil berlari supaya
tidak kecolongan. Saya jongkokkan dan saya tunggu beberapa detik,
"dah" kata dia. "Loh kok sudah dek, mana pipisnya?" Dia
kekeh bilang "dah" -__-, owkay owkay, harus sabaar. *tarik nafas.
Tidak lama kira2 1 jam saya tawarkan lagi untuk pipis, tanpa dia jawab langsung
saya gotong dia *pemaksaan* dan yess dia pipis, giraaaang banget hati saya saat
itu. Langsung saya puji dan saya cium rambu+keningnya,, sambil saya berkata
"dd kalau mau e'ek disitu yaa", sambil nunjuk potty seat milik kk
echi. Dia mengangguk "he'em". Semangat makin membara nih saya,
perjuangan dimulai. Naik level, saya mencoba untuk tetap tidak memakaikan
diaper saat tidur siang, namun diawali dengan pipis sebelum tidur, namun
beberapa kali dia mengompol, hihii. Marahkah saya? Tidak..!! Kondisi saya saat
ini benar2 siap untuk melatih Lyra TT begitupun sebaliknya, Lyra terlihat
begitu antusias melalui training yang dia jalani, jadi saya harus sabar.
1minggu berlalu Lyra semakin nyaman dengan dirinya yang tanpa diaper lagi. Dia
sudah bisa bilang "ma, pipis" walaupun kadang tidak setetespun yang
keluar, tapi saya sangat bangga padanya. Begitu pula dengan pup nya, dia juga
bilang "ma pipis" namun saya tahu kalau dia mau pup karena dia bilang
sambil posisi jongkok dan hening. Setelah didudukkan di potty seat, dia pun
pup. Naik level lagi, sekarang melatih tanpa diaper sepanjang hari, dengan
melakukan kebiasaan baru. Sebelum tidur, pipis, cuci kaki, tangan, gosok gigi
(semua dilakukan bersama2 kk nya). Dan dia sangat menikmatinya. Sukses kah?
Pastiii,, beberapa kali saya pasang diaper sebelum tidur dan saya menemukan
diaper nya masih bersih saat bangun pagi. Good Job, Good Girl..! Keesokan
harinya saya lepas sama sekali, saya hanya memakaikan celana rangkap (CD dan
celana tidur) diapun berhasil melaluinya. Beberapa kali dia gelisah, tengah
malam dan teriak minta pipis. Dan pipislah dia dengan mata terpejam dan kepala
goyang2, hahaa..,lucu sekali. Berhasil toilet training saya pada anak kedua
ini, saya bersyukur diberikan kemudahan untuk menjalaninya. Selain ada kesiapan
dari kedua belah pihak, adanya pendukung dalam hal ini kk echi tersayang, si
adek jadi lebih mudah diarahkan. Mengapa tidak melibatkan papanya anak2? Karena
beliau sedang menempuh sekolah lanjutan di luar kota. Namun saya yakin berkat
doa beliau saya diberikan kemudahan menjaga anak-anak ketika beliau tidak bisa
mendampingi, Love u papa :* . Eitss tapi jangan senang dulu, masih ada pe-er
satu lagi, yaitu WWL, proses penyapihan dengan penuh cinta. Yang satu ini
sepertinya prosesnya sangat tidak mudah, butuh proses panjang dan kesiapan
mental dan fisik antara saya dan Lyra. Akankah berhasil?? Kita lihat saja
nanti. Nantikan kabar terupdate selanjutnya yaaa... ^^
![]() |
| dd Lyra bangun tidur nihh :* |
Note : Kesimpulan dari sharing
saya di atas adalah Toilet Training adalah proses alamiah yang pasti akan
dilalui anak, berapapun usianya. Pahamilah bahwa karakteristik anak satu dengan
yang lainnya tidak sama. Oleh karena itu, persiapkanlah sesuatu dengan sebaik-baiknya,
agar proses yang dijalani sesuai dengan yang diharapkan dan hasil yang didapat
juga maksimal. Salam semangat Toilet Training moms..!! #cheers dulu dongs \^^/


Tidak ada komentar:
Posting Komentar